Harian Remaja Tua
Kisah Kilah Kasih Remaja Hampir Tua Tersasar Di Bumi
Kisah Kilah Kasih Remaja Hampir Tua Tersasar Di Bumi
Pernah nonton film Suzanna dan kawan-kawan? Klenik dan keluarga setan, jin, demit sering dijadiin ‘senjata’ yang ampuh buat ngelawan saingan. Mau dalam hal bisnis sampe percintaan.
Tapi itu semua cuma lawakan taun 70-80an. Jadul abis. Dan apa iya itu masih dipake dijaman di mana hampir setiap anak SD dikota besar nenteng iPad?
Gue terkejut *kamera zoom in zoom out*! Pas salah satu temen gue, kamarnya (katanya) dibakar setan. Ada genderuwo yang sekarang tinggal di kamarnya. Mau ketawa ya kasian, mau percaya apa kata ijazah SMA gue.
Kenapa akhirnya hal ini nganggu pikiran gue? Semalem, gue telfonan sama emak. Eh doski cerita dah, suaminye (lagi-lagi katanya) kena santet. Ya kali! Ceritanya, abis mandi pagi handuknya berdarah-darah. Padahal ga ada luka sama sekali. Heran ga sih?
Akhirnya cerita emak gue pindahlah ke cerita bude Bimbi (Alm) - bude jauh gue. Dulu, ceritanya almarhumah meninggal karena kena santet. Tapi dari rekam medis dia meninggal karena kanker payudara. Nah, lu mau percaya yang mana?
Cerita-cerita semacam itu aslinya udah banyak gue denger. Apalagi di Indonesia ini jumlah penduduknya kan cuma setengah, yang setengah lagi ga keliatan. Tapi gue tetep percaya-percaya ga, semacam percaya yang engga engga!
The closing statment from my mom is “It’s just in our face”.
Result: Ini tulisan intinya, gue cuma bingung aja kok ya masih aja ada yang pake dukun buat urusan-urusannya. Diketawain ijazah booook!
Lady Gaga, penyanyi fenomenal yang banyak mengispirasi Little Monsters (sebutan bagi fans Gaga) ternyata tidak begitu berpengaruh di Indonesia. Orang paling berpengaruh versi Forbs tahun 2011 ini tidak diperbolehkan konser di Indonesia. Kenapa? Alasan polisi adalah Gaga tidak sesuai dengan adat istiadat ketimuran Indonesia yang dulu kala berbaju batik dengan bahu dan susu yang terlihat. Atau bahkan suku-suku primitif di Papua sana yang sampai sekarang tidak berbaju. Atau mereka itu bukan orang Indonesia?
Banyak pers internasional memberitakan hal ini secara vulgar dan menurunkan citra Indonesia. Yah, semua karena FPI.
The Islamic Defenders’ Front, a group known for sometimes violent campaigns against vice, had threatened to block Gaga’s planned June 3 concert, accusing her of promoting Satan worship and homosexuality. - hispanicbusiness.com
Fundamentalist groups in Indonesia branded the singer “vulgar” and indecent. They believe she will corrupt the youth of the nation, which has the world’s largest Muslim population. And cops have backed them by refusing to issue a permit for a Gaga concert in the capital Jakarta. - thesun.co.uk
C’mon, merusak iman, akhlak dan kesatuan bangsa? Alasan yang sama bagusnya untuk menjarain Ully Auliani, Inul Daratista, Trio Macan (dan pecahan-pecahannya) dan serombongan pedangdut anak Ibu Pertiwi ini.
Pemuja setan? She is a good Catholic. Jadi logikanya, kalo Gaga yang pemuja setia Yesus disebut pemuja setan, semua orang Katolik di Negeri Suci ini pemuja setan? Mungkin logika gue salah, tapi sakit hati aja kalo kalangan ekstrimis Islam ini judge berlebihan terhadap orang.
Lady Gaga juga bukan teroris yang menyebar luaskan bom dan teror. Dia bernyanyi untuk kesetaraan gender, untuk perdamaian, untuk cinta, untuk penghargaan diri sendiri. Kenapa celana dalam sama branya menghalangi semua itu?
“I’m very disappointed,” one ticket-holder, Mariska Renata, told the AP. Succumbing to the wishes of “troublemakers” only gave them more power, she said: “We are mature enough to be able to separate our own moral values from arts and culture.”
Read more: http://www.rollingstone.com/music/news/lady-gaga-denied-permit-for-indonesia-concert-20120515#ixzz1vDG0Dsil
Ancaman dari laskar/Ormas Islam ekstrim dan dari polisi untuk membubarkan konser jika tetap diadakan malah membuat masyarakat kian jenuh dengan keadaan dalam negeri. Akan ada banyak orang yang berpaling dari agama dan negara jika rekreasi (salah satu kebutuhan dasar manusia) tidak dapat dipenuhi, atau bahkan dilarang.
Dengan semakin maraknya berita di tv tentang Lady Gaga, semakin banyak orang tahu tentang dia. FPI, Mujahidin, 250 Kyai atau kubu penolak Gaga, akan semakin tersudutkan. Jangan cuma melarang, beri jalan keluar. Beri kami alasan yang masuk akal. Kami butuh jalan tengah!
Oia, Fun fact yang gue dapet ini adalah lebih dari 80% Little Monster di Indonesia adalah binan (gay, laki-laki homoseksual), so mau dia telanjang bulet juga ga akan ada yang ngaceng. Moral apa yang akan dirusak sesorang di negeri yang moralnya aja udah rusak. Dan gay, lesbian, biseksual, transgender bukan perusak moral. FPI bukan perusak moral, tetapi perusak kehidupan berbangsa dan bernegara yang Bhineka Tunggal Ika dan perusak citra Islam sebagai rahmatan lil alamin. Koruptor bukan perusak moral, mereka cerminan rusaknya moral bangsa.
Saya benci FPI dan kawan-kawannya, saya benci koruptor! Apa kamu bersama saya memberantas mereka?
Tugas perkembangan. Sekali lagi kembali ke tugas perkembangan seseorang dalam jalur kehidupan. Ahh, gue bosen dengan this circle of life. Muak lebih tepatnya. Dalam tugas perkembangan seumuran gue ini adalah mencari pasangan, yeah pacar. Saling menjajaki untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Tapi apa, gue sendiri malah ga bisa atau bahkan ga mau seseorang masuk ke dalam private side gue.
Berbagi satu sama lain mungkin akan jadi ajang romantisme yang memang dilakukan setiap pasangan. Tapi apa setiap part dari hidup lo akan dibagi. Setiap rahasia, setiap kesenangan, setiap kesedihan, setiap apapun yang lo dapat dan lo ingin. C’mon, gue akan mati dan akan mati sendirian.
Gue bukanlah orang yang pinter barbagi atau dengan tulus menerima orang masuk ke dalam private side, walaupun gue dapat dengan tulus menerima setiap orang dengan apa adanya.
Simple example, gue akan makan kalau gue bener-bener laper dan pengen makan. Kalau engga, pas dipaksa ya gue akan bete. Please, dia bukanlah orang yang kaya gue. Dia makan karena memang makan sehari itu harus at least 2 kali sehari or could be more. Gue ga ngelarang atau ga suka dengan cara hidupnya, tapi hiduplah dengan cara kita masing-masing dan saling menghormatilah satu sama lain. Simple kan?
I know i like you, but yeah i just was born this way so do the way you just born and lived your life. Like my lecture said, “intensitas mengurangi makna dibalik sesuatu”.
“Menurut gue, pasangan yang tidak ada kegiatan erotisnya cuma temen rumpi”, quote dari teman gue yang cukup menarik. Temen rumpi? Lalu ada batasan untuk kegiatan erotis itukah? Is there just a deep kiss or having any intercourses? Ya, gue masih bingung untuk menentukan batasan itu, setiap orang punya batasannya masing-masing. Gue tidak berusaha sok suci dengan tidak menyentuh. Berkali-kali temen gue di Bekasi bilang dia ga mau LDR (long distant relationship), ya karena setiap manusia yang punya hubungan romantis butuh sentuhan, saling tatap atau merasakan sensasi romantisme berdua. Tidak dalam hubungan via kabel atau nirkabel.
I love being loved by someone, I love to love someone and I just love lived in love. Ya, sesuatu yang tidak bisa hanya dikatakan. Butuh pengorbanan and something other bullshit things. Kegiatan erotis menurut gue seperti penyedap dalam menjalin hubungan dengan seseorang, ada makin enak, tidak ada pun tetap bisa dimakan. Tidak munafik dan tidak menutup-nutupi, ya gue butuh kegiatan erotis itu. Gue cuma manusia biasa yang diciptakan untuk menikmati kegiatan erotis untuk kepuasan fisik dan yang paling penting juga batin.
Tapi sepertinya gue agak susah mengendalikannya. Setiap dia meluk gue, setiap kali itu pula dada gue rasanya panas. Gue takut, bukan karena gue ga bisa tapi gue belum sanggup. Sex is not all about physical thing, but it talks about sound deep inside our heart. That’s a good sex, we’re not talking about prostitution here, we talk about two people in a romantic relationship. Perasaan gue ke dia belum bulat, belum penuh, bahkan gue pun belum yakin sama dia.
Was it making love? We don’t do any intercourse, for me that wasn’t a making love in physical issue. But yes, we did it in feeling issue. Do i have to talk with you about this, but in the other hand you and me are just in sounding out area. We’re not couple yet.
Sebut gue manusia yang tidak bersyukur. Sebut gue manusia yang tidak tahu malu. Sebut gue penuntut tanpa memberi jalan keluar. Tapi gue hanya ingin mempertanyakan, kemana arah pendidikan gue.
Sering sudah gue muak sama kampus. Hey, sesusah itukah mendidik kami sampai kalian beraninya merancang sistem agar kami jadi suatu umat penghafal. Mempunyai kepuasan palsu terhadap buku-buku import yang sebenarnya kalian sendirilah yang membantah teori-teori luar negeri (sebut mereka barat) tersebut dengan indigenous psychology? Pertanyaan macam itulah yang meronta-ronta sampai ke dasar otak.
Dengan sistem itu pula, setiap ada presentasi, debat ataupun diskusi semua pertanyaan dilontarkan hanya untuk nge-tes penyaji. Atau bahkan hanya untuk mencari perhatian, entah dosen atau dianggap pintar oleh seantero kelas. Setidaknya tidak ada perkembangan dari soft skill yang dibutuhkan saat hidup diluar dunia perkuliahan. Mahasiswa dituntut sebagai bahan aktif pembuat perubahan. Tapi beraninya perguruan tinggi negeri papan atas macam UGM menjadikan kami calon pegawai berkualitas.
Masih dengan sistem yang dibanggakan tersebut, kami tidak dididik untuk menjadi individu yang kritis. Budaya kampus UGM yang manut aja juga memperkuat kebodohan kami dalam mengkritisi sesuatu. Kami hanya dibebaskan melihat dari satu sudut pandang, sudut pandang yang lain seakan terlarang. Menjadi kritis dan berbeda seakan mendeklarasikan bahwa lo adalah orang yang patut dibuang. Banyak contoh sudah gue liat. Kenapa anak Atma Jaya sangat berjaya dengan pemikiran mereka. Orisinalitas mereka. Walau kadang tidak semua pemikiran mereka itu masuk akal. Tapi setidaknya mereka dihargai.
Tidak ada kegiatan yang benar-benar menyentuh masyarakat. Mahasiswa psikologi, hanya puas dengan data, tanpa adanya tindak lanjut. Dengan alasan kesibukan akademik pun mahasiswa sering lupa mereka tinggal ditengah masyarakat. Ada yang salah dengan sistem. Ada yang salah dengan pemahaman sistem (pun jika sistem itu memang mendukung kegiatan ditengah masyarakat).
Badan Eksekutif Mahasiswa Psikologi UGM, punya divisi bernama Pengabdian Masyarakat. Really? Mengabdi untuk masyarakat mana dulu? Masyarakat kampus psikologi. Sekumpulan warga negara Indonesia atau warga negara asing yang belajar dan membayar di UGM. Dan setelah ilmu itu dibagikan kepada mereka, pertanyaannya apakah mereka menyebarkannya kemasyarakat? Apakah mereka melayani masyarakat? Atau pengetahuan dari buku-buku yang diperbaharui setiap tahun itu berguna bagi masyarakat?
Sempat BBM-an sama temen dari Gunadarma. Please, jangan under-judgment dulu sama Gundar seperti kebanyakan dosen UGM. Mereka dengan leluasanya pergi penelitian, tidak terkurung dengan buku dan teori-teori dari abad lalu, mereka membaca, mendengar, melihat, dan mendiskusikannya di kampus yang menimbulkan pemahaman bersama dengan landasan dari dosen agar tidak melenceng. Oh what a life, diberkatiNya-lah mereka!
Sampai saat ini, gue enggak bisa menjelaskan apa gunanya mahasiswa harus mereview jurnal ilmiah. Kami tidak pernah diberitahu apa gunanya. Perintahnya ‘review dan kumpulkan’. Akhirnya kami kerjakan, kumpulkan dan lupakan. Banyak ilmu yang berguna kami lupakan. Sistem pengajaran apa ini? Lulusan apa yang akan lulus dari universitas papan atas macam UGM ini?
Kenapa dulu gue memilih jurusan IPS, karena gue pemalas. Pemalas jika hanya menjadi penghafal. IPS itu pemahaman. Dipahami. Psikologi adalah hafalan. Dan akhirnya kehilangan semangat untuk melayani masyarakat.
Dan akhirnya gue muak tanpa bisa melakukan apapun. Gue tenggelam dalam sistem konyol berbayar. Tapi setidaknya gue masih punya pilihan, tinggal dan meneruskan kekonyolan ini atau keluar dengan berbagai cara tapi kembali menjadi umat yang bebas. Miris.
Hari ini mungkin salah satu hari pembalasan. Setiap orang punya keyakin dan pantangan-pantangan tersendiri tentang sesuatu. Entah dalam hal bersikap, keyakinan spiritual, sex, percintaan atau hal apapun yang kuat mendalam pada dirinya.
Jika seorang punya keyakinan hanya menjadi penonton dalam inner-cirle-nya, ada baiknya tidak mendekati “bangku pemain”, tidak juga mendekati “bangku pemain cadangan”. Saat dia sudah melampaui batasannya, saat itulah dia harus terkena kartu merah.
Pahami dan maknai “mulutmu, harimaumu” baik-baik.
Ada lagi, seorang yg ga mau jadi selingkuhan. Takut kalau ada orang ketiga dihubungannya. Dia percaya karma. Tapi ternyata ga sengaja dia jadi selingkuhan orang. Apalagi, pacarnya yang selingkuh ini, ala.ala Halimah. Wah makin ngerasa bersalah aja.
Revenge yang gue maksud bukan hanya pembalasan atas apa yg udah kita lakukan, dia juga punya arti sebagai penguji, apakah kita masih sanggup dengan apa yg kita yakini? Tentu dengan banyak penyesuaian dalam pola pikir menerima keyakinan awal pasca insiden.
Hidup itu dilematis. Tenang, nyaman, aman tapi flat dan membosankan. Hidup bisa sangat sulit, memusingkan, membingungkan sampai hampir bunuh diri, tetapi seru dan menyenangkan. Tergantung bagaimana kita menyikapi surprise dari kehidupan. Mau belajar dan terus pentas atau berhenti dan bunuh diri.
Funniest moment is when someone sudah tidak merasa berguna waktu ditinggalin sama pacarnya, temannya atau apanyalah. Bahkan cuma gebetan, in her/him friendzone (i use it, biar dibilang anak gaul ga ketinggalan topik terhangat). Lucu kan? Buat gue iya itu lucu.
Dalam seminggu ini, sudah empat cerita yang sebelas-dua belas gue dengerin tentang, “seberapa merasa tidak bergunanya saya jadi seorang pacar, teman, sahabat”. Oh c’mon! Sebelum lo kenal sama mereka semua itu, apa yang terjadi sama lo? Nothing, semua baik-baik aja kan? Semua hal di dalam hidup itu kena hukum ‘datang dan pergi’. Apa bisa gue nyalahin mantan gue yang sekarang udah bahagia dengan hidupnya, sementara gue masih cry over out loud di sini. Ga kan?
Kalo kata nyokap (lagi dan lagi kata nyokap), semua itu punya jodohnya masing-masing. Mau itu cuma temenan, pacaran, menikah bahkan sama barang pun kita punya jodoh tertentu. Saat sudah tidak berjodoh yah harus saling merelakan. (Gue ga tau kenapa nyokap gue itu wise sekali?)
Semua orang punya gunanya masing-masing. ini sebenernya kepikiran udah dari semalem. Tapi berhubung saya ngantuk habis piknik di kebun binatang (pamernya sih gitu) jadi saya tidur. Hahaha.
Dalam suatu circle yang berpusat pada diri kita, semua orang disekitar kita punya manfaat sendiri-sendiri. Ada temen curhat, ada temen karokean, ada temen kerja, ada temen bisnis, ada temen mabok, ada temen sekedar main UNO, ada temen jalan etc etc. Satu orang (menurut gue) hanya punya satu tugas. Lebih dari itu IT’S NOT WORK, TRUST ME!
It’s not a high school time, dimana temen kita untuk segala aktifitas yah hanya segelintir orang. Itu karena dunia kita masih terlalu sempit. Setelah masuk kuliah atau bahkan udah lulus, dunia kita udah semakin lebar-lebar-lebar tak terbendung. Apa lagi yang ngerasin hidup di tanah orang. Rasanya tiap hari kenal sama orang baru.
Jadi suka lucu aja kalo ada orang yang ngeluh, kalo dia itu ga berguna. Merasa jadi sampah masyarakat. Berarti buat apa lo diciptain? Kalo bukan buat berguna untuk orang lain dan sebagai bahan hiburan untuk Tuhan.